Setelah menyatu dengan kekuatan baru itu, Dima mulai melihat pola lain, lebih besar dari tubuhnya sendiri. Ia mulai memahami bukan hanya bagaimana sesuatu diperbaiki, tapi bagaimana sesuatu diciptakan.
Ia menutup mata, membiarkan pikirannya masuk lebih dalam ke jaringan. Ia hanyut ke dalam ruang digital yang luas, ruang tanpa batas yang tidak mengenal tanah atau langit. Dan di sana, ia mulai menata sesuatu yang sederhana.
Pertama, ia menyalakan titik cahaya. Sebuah percikan kecil, namun berdenyut dengan ritme kosmos. Dari percikan itu, ia membentuk garis, lingkaran, geometri sederhana. Lalu ia menganyamnya dengan warna, tekstur, dan suara.
Perlahan, terbentuklah lanskap: padang yang tenang, sungai yang beriak, langit yang luas. Dunia mini, lahir dari pikirannya.
Prasasti hijau bergetar di dalam hatinya: “Dengan cara inilah dunia diciptakan.”
Dima terperanjat. Ia sadar bahwa penciptaan bukan sekadar rekayasa. Dunia itu terasa hidup. Cahaya tidak hanya terang, ia bernafas. Air tidak hanya mengalir, ia beriak dengan ritme yang tidak ia rancang.
Ia tersadar, ia bukan hanya ilmuwan atau perancang. Ia adalah cermin kecil dari semesta besar, mencipta dunia sebagaimana kosmos pernah menciptakan dirinya.
