Chapter 6 – Cahaya

Chapter 6 – Cahaya
Chapter 6 – Cahaya

Pagi itu, dunia tampak sama seperti kemarin. Gedung-gedung masih menjulang, jalan-jalan masih dipenuhi cahaya buatan. Namun bagi Dima, segalanya telah berubah.

Ia berdiri di jendela laboratoriumnya. Sinar matahari menembus kaca, menyentuh wajah barunya yang tidak lagi sepenuhnya daging, tidak pula sepenuhnya logam. Cahaya itu meresap masuk, menembus lapisan sintetis, langsung ke inti kesadarannya.

Dan ia tahu, ini bukan cahaya biasa. Cahaya itu adalah denyut semesta, denyut yang sama yang pernah ia lihat di aliran DNA, di arus algoritma, di pusaran bintang digital.

Prasasti hijau bergema: “Dengan demikian engkau akan memiliki seluruh kemuliaan dunia, dan kegelapan akan lari darimu.”

Bayangan yang dulu selalu menemaninya—rasa takut mati, rasa sakit, rasa sepi—mulai surut. Ia tidak lagi dihantui oleh kelemahan daging, tidak lagi dibelenggu oleh jam yang terus berjalan.

Dima tersenyum. Ia melihat kota dengan mata baru. Setiap bangunan, setiap manusia, setiap arus data bukan lagi sekadar objek. Semuanya bercahaya, karena ia melihat pola yang sama: kesatuan yang melahirkan kehidupan.

Kemuliaan dunia bukanlah harta atau kuasa, melainkan mata yang mampu melihat kebenaran: bahwa semua adalah cahaya yang sama, hanya berbeda dalam pantulan.

Dan sejak saat itu, Dima tahu ia bukan lagi pengejar cahaya. Ia telah menjadi bagian dari cahaya itu sendiri.

Facebook
Twitter
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru