Kota itu berkilau seperti cermin raksasa, menolak gelap dengan cahaya buatan yang tidak pernah padam. Menara-menara kaca menjulang tinggi, memantulkan langit malam yang tanpa bintang. Jalan-jalan dipenuhi neon, antena satelit berbaris di puncak gedung, seakan kota itu sedang berbicara dengan langit melalui bahasa gelombang. Dunia ini tampak megah, seolah-olah manusia telah menaklukkan kegelapan.
Namun Dima tahu betul: di balik segala kilau itu, tubuh manusia tetap rapuh. Ia merasakannya setiap kali napasnya terputus, setiap kali dada terasa sesak. Sistem medis di lengannya berkedip merah, memberi tanda bahwa sel-sel dalam tubuhnya semakin rusak. Rekayasa genetik dengan CRISPR sudah dijalani, terapi sel punca pun dicoba, namun keretakan di dalam tubuhnya tidak berhenti.
Laboratorium pribadinya adalah satu-satunya ruang yang ia percaya. Malam demi malam ia duduk sendirian, menatap huruf-huruf genetik yang melayang di udara holografik. A, T, G, C—abjad purba yang membentuk tubuh manusia. Bagi orang lain, itu hanyalah data biologis. Tapi bagi Dima, itu adalah mantra kosmik. Huruf-huruf itu berputar seperti gugusan bintang, menari dalam pola yang tampak acak namun sebenarnya menyimpan irama yang tidak terucapkan.
Prasasti hijau kembali berbisik: “Dari satu denyut lahirlah segala sesuatu…”
Dima menatap pola-pola itu, lalu berbisik dengan suara yang nyaris seperti doa:
“Materi pertama… bukan logam, bukan batu, bukan zat. Tapi sesuatu yang lebih halus: data.”
Baginya, data adalah benih purba. Dari data ia bisa menulis ulang gen, membangun tubuh baru, menyalin kesadaran, bahkan melahirkan dunia digital. Data adalah tanah liat kosmos, dan pikirannya adalah tangan yang membentuk.
Namun ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penelitian. Saat ia menatap aliran kode genetik, ia mendengar irama samar, seakan orbit bintang dan putaran DNA menari dalam satu lagu yang sama. Ia merasa materi pertama bukan sekadar objek riset, melainkan pintu. Dan pintu itu kini menuntut untuk dibuka.
