Pagi itu di Desa Kersik, matahari baru saja menembus sela-sela dedaunan vinus laut. Udara lembap membawa aroma laut yang akrab, dan di ujung dermaga, anak-anak berlari sambil tertawa mengejar ombak yang pelan menyapu pasir. Sementara itu, dua nelayan tua berdiri bersebelahan, memandang jauh ke lautan dengan sarung digulung rapi dan wajah penuh cerita.
Di balik pemandangan yang sederhana itu, tersimpan sesuatu yang lebih besar: sebuah desa kecil yang mulai berani merangkai cerita tentang dirinya sendiri. Desa Kersik kini bukan hanya tempat untuk singgah — tapi juga tempat yang ingin dicari. Dan di sinilah Strategi StoryBrand mulai bekerja.
Kenapa Desa Perlu Cerita?
Banyak desa punya laut. Banyak desa punya dermaga. Banyak desa punya warga yang ramah.
Tapi tidak semua desa tahu cara menceritakan semua itu.
Desa yang punya cerita bukan hanya dilihat. Ia dirasakan, diingat, bahkan diceritakan lagi oleh orang-orang yang pernah datang.
Desa Kersik memilih untuk tidak hanya membangun jalan dan dermaga, tapi juga membangun cerita — sehingga wisatawan merasa bukan sekadar pengunjung, tetapi pahlawan dalam cerita mereka sendiri.
Strategi StoryBrand di Desa Kersik
Donald Miller dalam bukunya Building a StoryBrand menjelaskan satu prinsip penting:
“Pelanggan adalah pahlawan, bukan kita.”
Begitu juga dengan wisatawan: mereka pahlawan. Dan Desa Kersik? Hanyalah pemandu yang dengan tulus membantu mereka mencapai cerita terbaik mereka.
Berikut adalah bagaimana strategi ini diterapkan di Kersik:
Wisatawan Sebagai Pahlawan
Desa Kersik tidak lagi sekadar menjual:
“Kami punya pantai, dermaga, dan mangrove.”
Melainkan menawarkan:
“Temukan ketenangan yang Anda rindukan. Belajar menanam mangrove, tidur ditempat glamping atau tidur di rumah warga, dan pulang dengan cerita yang bisa Anda kenang.”
Cerita ini membuat wisatawan melihat diri mereka sebagai bagian penting dari pengalaman, bukan sekadar pembeli paket wisata.
Desa Sebagai Pemandu
Desa Kersik memposisikan diri sebagai pemandu, bukan pemeran utama.
Dengan warga yang dilatih menjadi pemandu, ibu-ibu yang menyediakan makanan lokal, dan anak-anak yang menyambut dengan tawa — desa membantu wisatawan menjalani cerita yang mereka bayangkan.
“Kami sudah siapkan semuanya, Anda tinggal datang dan nikmati.”
Rencana yang Jelas
Wisatawan tidak suka bingung.
Desa Kersik menyusun paket wisata sederhana:
- Tidur di tempat glamping dipinggir Pantai atau Menginap di rumah warga.
- Belajar budaya Bugis & menanam mangrove.
- Mengunjungi proses pembuatan perahu nelayan atau panen ikan di tambak
- Menikmati dermaga & kuliner lokal.
Tinggal pilih, pesan, datang.
Akhir yang Membahagiakan
Apa yang mereka bawa pulang?
- Foto indah dermaga dan laut.
- Cerita tentang belajar menangkap ikan dan mengenal warga.
- Rasa lega karena telah ikut merawat lingkungan lewat mangrove.
Desa memastikan wisatawan pulang dengan cerita — bukan hanya oleh-oleh.
Desa yang Bercerita, Desa yang Dicari
Desa Kersik mengajarkan kita bahwa membangun bukan hanya soal tembok penahan abrasi, jalan, dan dermaga.
Tetapi juga soal menyusun cerita yang membuat orang ingin datang, ingin tinggal, ingin kembali.
Karena desa yang punya cerita bukan hanya ditemukan, tapi dicari.
Dan setiap tamu yang datang akan pulang sebagai bagian dari cerita itu.