Desa wisata tidak hanya menjual pemandangan alam atau suasana pedesaan yang tenang. Wisatawan masa kini, terutama generasi muda, tidak hanya mencari “tempat” untuk berfoto, tetapi juga pengalaman yang berkesan. Data dari World Tourism Organization (UNWTO, 2022) menyebutkan bahwa lebih dari 67% wisatawan global memilih destinasi yang menawarkan pengalaman unik dan interaktif.
Dengan kata lain, keindahan Pantai, luasnya hamparan tambak atau rindangnya pohon cemara udang di Pantai Pantai Biru Desa Kersik memang memikat, tetapi tanpa atraksi yang menarik, wisatawan cenderung hanya datang sebentar, foto-foto, lalu pergi. Atraksi adalah nyawa dari sebuah destinasi wisata, yang membuat orang ingin datang, betah berlama-lama, bahkan kembali lagi.
Apa Itu Atraksi dalam Desa Wisata?
Atraksi tidak selalu berarti pertunjukan besar atau mahal. Atraksi adalah segala kegiatan atau pengalaman yang membuat wisatawan terlibat, belajar, dan merasakan kehidupan di desa. Atraksi bisa berupa:
- Pertunjukan seni tradisional (tari, musik, permainan rakyat).
- Workshop kerajinan lokal (misalnya menangkap ikan ditambak, membuat kerajinan tangan, atau kerupuk ikan).
- Jelajah alam & edukasi lingkungan (menanam mangrove, memanen hasil laut).
- Aktivitas kuliner (belajar masak bandeng bakar, mencicipi jajanan khas).
- Cerita rakyat & tur sejarah desa.
Di banyak desa wisata di Indonesia, atraksi-atraksi sederhana seperti ini terbukti menjadi daya tarik utama yang meningkatkan kunjungan dan lama tinggal wisatawan.
Beberapa desa wisata di Indonesia telah membuktikan bahwa atraksi adalah faktor yang sangat menentukan:
- Desa Pentingsari, Yogyakarta: menawarkan atraksi menanam padi, belajar gamelan, dan bermain di sungai. Lama tinggal wisatawan meningkat dari rata-rata 2 jam menjadi 1,5 hari setelah atraksi dikembangkan.
- Desa Penglipuran, Bali: mempertahankan tradisi adat dan menampilkan ritual-ritual yang bisa disaksikan wisatawan, menjadikannya salah satu desa wisata terpopuler di Asia Tenggara.
- Desa Kete Kesu, Toraja: terkenal dengan atraksi upacara adat pemakaman yang unik, yang menarik ribuan turis setiap tahun.
Dalam laporan Kemenparekraf 2023, desa wisata dengan atraksi yang terkelola baik rata-rata mengalami kenaikan pendapatan hingga 35% lebih tinggi dibanding desa wisata yang hanya mengandalkan pemandangan alam.
Bagaimana dengan Desa Kersik?
Desa Kersik memiliki potensi besar:
- Pantai Biru yang indah dan ramah untuk aktivitas laut.
- Mangrove yang bisa dijadikan lokasi edukasi ekowisata.
- Produk lokal yang unik.
- Budaya masyarakat pesisir yang bisa ditampilkan lewat cerita dan tradisi.
- Hutan Cemara Udang di pinggir Pantai Biru Kersik sebagai tempat glamping.
Namun, potensi ini perlu “disulap” menjadi atraksi nyata. Misalnya:
- Menyusun jadwal pertunjukan mingguan (tari, musik, atau cerita rakyat).
- Mengadakan lomba perahu, mancing, layang-layang atau festival kuliner tahunan.
- Susur Sungai atau tur jalan kaki dengan pemandu untuk mengenalkan sejarah dan kehidupan desa.
Atraksi yang terencana dengan baik tidak hanya memberi kesan positif bagi tamu, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga: penyewaan alat, homestay, penjualan produk lokal, hingga jasa pemandu.
Atraksi bukan hanya pelengkap, tetapi fondasi penting desa wisata yang berkelanjutan. Dengan atraksi yang menarik dan konsisten, Desa Kersik tidak hanya dikenal karena pantainya yang cantik, tetapi juga sebagai desa dengan pengalaman wisata yang berkesan.
“Wisatawan datang karena pemandangan, tetapi mereka kembali karena pengalaman.”
Sebagai warga Desa Kersik, mari kita mulai dari yang sederhana: gali kekayaan budaya, alam, dan kearifan lokal kita, kemudian kemas menjadi atraksi yang bisa dinikmati wisatawan. Dengan kerja sama, semangat belajar, dan kreativitas, Desa Kersik bisa menjadi contoh desa wisata unggulan di Kalimantan Timur.