Pernahkah kamu merasa bahwa dunia bergerak terlalu cepat, dan kita semua seperti dikejar sesuatu yang tak kita pahami? Teknologi, data, kecerdasan buatan… semuanya terdengar luar biasa — tapi ke mana sebenarnya kita sedang berjalan?
Baru-baru ini saya kembali membaca buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari — buku lanjutan dari Sapiens, yang menggambarkan bagaimana manusia masa depan tak hanya ingin bertahan hidup, tapi juga menjadi Tuhan: menciptakan kehidupan, memperpanjang umur, mengendalikan emosi, bahkan menghapus penderitaan lewat teknologi.
Keren? Ya.
Tapi juga… menakutkan.
Apakah Kita Menuju Kemajuan atau Kehilangan Arah?
Harari menyebut bahwa di masa depan, manusia akan semakin dikendalikan oleh data dan algoritma. Bahkan keputusan pribadi seperti memilih pasangan, pekerjaan, hingga arti hidup, bisa saja ditentukan oleh AI yang mengenal kita lebih dalam daripada diri kita sendiri.
Di saat yang sama, saya teringat pada pemikiran Carl Gustav Jung, seorang psikolog yang hidup jauh sebelum Harari. Jung tidak bicara soal AI atau teknologi canggih, tapi dia sudah sejak lama memperingatkan kita:
“Manusia paling berbahaya bukanlah yang lemah, tapi yang kuat secara teknis namun kosong secara batin.”
Menurut Jung, tugas terbesar manusia bukanlah menciptakan teknologi luar biasa, tapi mengenali dirinya sendiri secara utuh. Menyatukan cahaya dan bayangan dalam diri. Dalam istilah Jung: proses itu disebut individuasi — menjadi diri sendiri yang sejati.
Di Titik Ini, Dua Dunia Bertabrakan
- Harari melihat manusia masa depan sebagai “Homo Deus”: makhluk super dengan kekuatan seperti Tuhan, berkat teknologi.
- Jung mengingatkan: jika manusia hanya mengikuti ego, tanpa menyadari bayangannya sendiri, ia justru menjadi makhluk tanpa jiwa.
Keduanya tidak saling bertentangan, justru saling memperingatkan.
Dan di sinilah kita berdiri hari ini: di antara ambisi besar menjadi sesuatu, dan kerinduan dalam untuk tetap menjadi manusia.
Apakah Desa Bisa Menjadi Jawabannya?
Saya percaya, desa bukan hanya soal tempat tinggal atau objek wisata. Desa bisa menjadi ruang individuasi, tempat manusia kembali belajar mengenali makna, hubungan, dan keberadaan dirinya — tanpa kehilangan koneksi dengan dunia modern.
Di desa, kita masih punya ruang untuk:
- Merayakan tradisi tanpa menolaknya
- Menggunakan teknologi tanpa menyembahnya
- Membangun masa depan tanpa melupakan akar
Penutup
Mungkin suatu hari nanti, kita akan hidup berdampingan dengan AI, robot, dan data yang serba tahu. Tapi selama kita tidak lupa menjadi manusia, selama kita punya ruang untuk bertanya, merenung, dan menyapa sesama…
Maka teknologi tak akan pernah menggantikan makna.
Dan desa seperti Kersik bukan sekadar tempat liburan — tapi tempat manusia bisa jadi utuh kembali.
Tertarik dengan topik seperti ini?
Silakan ikuti blog ini, atau tinggalkan komentar — karena di dunia yang makin cepat, kita semua butuh tempat untuk berpikir pelan dan dalam.
One Response
Mantap