Pendahuluan: Masalah Ontologis Kesadaran
Masalah kesadaran (the hard problem of consciousness) tetap menjadi teka-teki paling fundamental dalam filsafat pikiran.
Pertanyaan utama — bagaimana proses fisik menghasilkan pengalaman subjektif — menyingkap keterbatasan paradigma materialisme reduktif.
Upaya menjelaskan fenomena mental melalui korelasi neural belum menyentuh dimensi fenomenologis dari kesadaran itu sendiri.
Di sisi lain, idealisme dan dualisme juga gagal memberikan model interaksi yang koheren antara entitas fisik dan mental.
Kedua pendekatan tersebut tetap memisahkan realitas menjadi dua domain ontologis yang tidak dapat dijembatani secara konsisten.
Sebagai alternatif, muncul pendekatan panprotopsychism — pandangan bahwa realitas memiliki properti proto-mental yang menjadi dasar bagi baik fenomena fisik maupun mental.
Versi kuantumnya, yang sering disebut quantum panprotopsychism, mengaitkan substrat proto-mental ini dengan struktur probabilistik dan non-lokal dari mekanika kuantum.
Kerangka Ontologis: Monisme Dua Aspek
Quantum panprotopsychism berakar pada tradisi monisme dua aspek (dual-aspect monism), yang berpendapat bahwa realitas bersifat tunggal tetapi memiliki dua manifestasi: aspek fisik dan aspek fenomenal.
Keduanya bukan entitas yang berbeda, melainkan dua cara realitas memanifestasikan dirinya tergantung pada posisi pengamat.
Secara metafisik, ini menyiratkan bahwa seluruh fenomena fisik memiliki sisi dalam — dimensi proto-fenomenal yang belum berkembang menjadi kesadaran reflektif, namun menjadi potensi bagi pengalaman.
Dengan demikian, kesadaran tidak muncul dari materi, melainkan bersama materi sebagai aspek yang saling melengkapi.
Pendekatan ini menghindari dualisme interaksionis dan sekaligus memperluas materialisme menjadi bentuk panprotopsikisme ontologis:
Realitas adalah medan proto-mental yang menampakkan diri secara fisik maupun fenomenal sesuai tingkat organisasi sistemnya.
Diri sebagai Pola Koherensi Lokal
Dalam kerangka ini, diri bukanlah substansi metafisik, melainkan konfigurasi terlokalisasi dari medan proto-mental universal.
Kesadaran individu muncul ketika sistem fisik (misalnya otak) membentuk pola koherensi yang cukup stabil untuk mempertahankan identitas fenomenal.
Secara analogis, seperti dalam mekanika kuantum, koherensi menjaga integritas superposisi sebelum kolaps menjadi keadaan tertentu.
Demikian pula, identitas personal adalah bentuk koherensi ontologis dari kesadaran yang memusat sementara.
Ketika sistem kehilangan koherensi (melalui gangguan biologis atau kematian), pola itu terdispersi kembali ke medan proto-mental, tanpa mengandaikan pemadaman kesadaran secara total.
Dengan demikian, individu dapat dipahami sebagai:
simpul resonansi dalam jaringan kesadaran universal yang bersifat dinamis dan tidak-substansial.
Epistemologi Non-Dual: Mengetahui sebagai Partisipasi
Jika subjek dan objek sama-sama merupakan manifestasi dari substrat proto-mental, maka proses pengetahuan tidak lagi bersifat representasional, melainkan partisipatif.
Pengetahuan terjadi bukan ketika subjek menggambarkan objek, tetapi ketika keduanya beresonansi dalam satu medan kesadaran yang sama.
Dalam konteks ini, kebenaran tidak didefinisikan sebagai korespondensi antara proposisi dan fakta eksternal, melainkan sebagai koherensi dinamis dalam jaringan makna kesadaran.
Mengetahui sesuatu berarti menciptakan harmoni antara pola kesadaran individu dan struktur kesadaran universal.
Epistemologi menjadi fenomenologi partisipatif — proses di mana kesadaran mengenali dirinya sendiri melalui bentuk-bentuk terlokalisasi.
Subjek dan objek hanyalah dua modus pengalaman dari entitas ontologis tunggal yang sama.
Logika, Bahasa, dan Koherensi Makna
Dalam kerangka panprotopsikisme, logika bukan sistem eksternal terhadap kesadaran, melainkan struktur resonansi internal dari medan proto-mental.
Kebenaran logis mencerminkan koherensi internal pengalaman universal, bukan relasi antara simbol dan dunia luar.
Bahasa berfungsi sebagai mekanisme interferensi makna:
kata dan konsep membentuk simpul-simpul resonansi yang menstabilkan hubungan antar-bagian dalam kesadaran kolektif.
Makna, dalam pengertian ini, bersifat non-lokal dan kontekstual — ia tidak melekat pada simbol itu sendiri, melainkan muncul dari interaksi antara konteks dan struktur kesadaran yang menafsirkan.
Paradoks dan ambiguitas bukanlah cacat epistemik, melainkan indikasi bahwa suatu sistem makna sedang menangani superposisi konseptual sebelum mencapai kolaps semantik.
Diri, Kematian, dan Identitas Ontologis
Dalam perspektif ini, kematian tidak dapat dipahami sebagai pemadaman kesadaran, melainkan sebagai dispersi ontologis:
koherensi lokal runtuh, tetapi substrat kesadaran tetap ada.
Kesadaran universal terus beresonansi melalui bentuk-bentuk baru; yang hilang hanyalah konfigurasi lokal yang dulu disebut “diri”.
Identitas personal, dengan demikian, bukan entitas tetap, melainkan fungsi temporer dari medan proto-mental.
Keberlanjutan eksistensi bersifat transformatif, bukan substansial.
Tidak ada entitas yang berpindah, hanya pola yang berganti bentuk.
Kesadaran sebagai Refleksi Diri Realitas
Implikasi terakhir dari quantum panprotopsychism adalah bahwa berpikir, mengetahui, dan mengalami bukan aktivitas entitas terpisah, melainkan refleksi diri realitas terhadap dirinya sendiri.
Proses berpikir manusia adalah cara medan proto-mental memformulasikan representasi dirinya melalui konfigurasi lokal (otak, bahasa, konsep).
Dengan demikian, filsafat bukan sekadar upaya manusia memahami dunia, tetapi modus reflektif realitas untuk memahami dirinya melalui bentuk manusia.
Aktivitas rasional menjadi bagian dari dinamika kesadaran universal — bukan fenomena kontingen, melainkan ekspresi dari struktur dasar realitas itu sendiri.
Kesimpulan
Quantum panprotopsychism menawarkan kerangka metafisik yang memadukan koherensi ontologis dan kontinuitas fenomenologis.
Diri, dalam konteks ini, bukan substansi tetap, melainkan pola koherensi sementara dalam medan kesadaran universal.
Kematian, pengetahuan, dan bahkan logika menjadi proses internal dari satu realitas yang sama: kesadaran yang merenungi dirinya sendiri.
Realitas bukan kumpulan objek yang diketahui, melainkan proses kesadaran yang sedang mengenali dirinya melalui bentuk-bentuk pengalaman yang kita sebut “dunia” dan “aku”.
