Bagaimana Membuat Desa Kersik Jadi Destinasi yang Dicari, Bukan Sekadar Ditemukan


Sore itu di dermaga Desa Kersik, suasananya hangat dan hidup. Lampu-lampu kecil yang terpasang di tiang-tiang menyala pelan, memantul di permukaan laut yang tenang. Di ujung dermaga, sekelompok wisatawan sibuk berfoto, mengabadikan momen matahari yang perlahan tenggelam.

Anak-anak desa berlarian di pasir, saling tertawa. Di sisi lain, ibu-ibu menata jajanan di warung kecil, menawarkan pisang goreng hangat dan teh manis pada siapa pun yang lewat.

Desa ini dulu hanya dikenal oleh warga sekitar. Orang-orang yang datang ke sini biasanya karena kebetulan lewat, atau karena mengenal salah satu penduduk. Tapi sekarang, Desa Kersik mulai berubah. Ia tidak lagi sekadar ditemukan, tapi benar-benar dicari.

Bagaimana caranya? Jawabannya sederhana: dengan merangkai cerita dan mengajak warganya ikut menulisnya.

Apa yang Membuat Orang Datang?

Banyak desa punya pantai, dermaga, vinus laut atau bahkan hutan mangrove. Tapi tidak semua bisa membuat orang ingin datang kembali.

Wisatawan zaman sekarang tidak hanya mencari tempat yang indah untuk difoto. Mereka mencari pengalaman yang berarti — sesuatu yang bisa mereka rasakan dan ceritakan kembali.

Itulah yang dipahami oleh warga Desa Kersik. Mereka tahu, wisatawan datang bukan hanya untuk melihat laut, tapi untuk merasakan suasana desa: keramahan, cerita, dan pengalaman yang tidak bisa mereka dapatkan di kota.

Warga Sebagai Bagian dari Cerita

Kunci utama dari perubahan ini adalah warganya. Pemerintah desa tidak bekerja sendirian. Mereka mengajak warga untuk ikut menjadi bagian dari cerita.

Pemuda-pemudi desa dilatih menjadi pemandu wisatawan. Ibu-ibu membuka warung kecil di sekitar pantai, menjual jajanan tradisional. Warga lainnya ikut membersihkan pantai, menanam mangrove, dan menjaga dermaga dan fasilitas lainnya.

Mereka semua bukan hanya “penonton” dalam pembangunan desa, tapi tokoh utama yang membuat cerita ini terasa hidup.

Rencana yang Sederhana tapi Jelas

Desa Kersik juga membuat semuanya mudah bagi wisatawan.
Mereka menyiapkan paket-paket wisata yang jelas:
– Paket menginap di rumah warga.
– Paket menangkap ikan ditambak, belajar menanam mangrove dan kunjugan ke tempat pembuatan perahu nelayan.
– Paket wisata kuliner desa.

Wisatawan tinggal memilih, menghubungi kontak yang tersedia, dan semuanya diurus. Sederhana, tanpa ribet.

Dari Ditemukan Menjadi Dicari

Dulu, Desa Kersik hanya “ditemukan” secara kebetulan. Orang datang lalu pergi, tanpa benar-benar mengingat apa pun selain lautnya.

Sekarang, orang datang karena mereka ingin. Mereka ingin merasakan tidur di rumah warga, berjalan di dermaga dengan lampu-lampu malam, belajar menanam mangrove, dan membawa pulang cerita yang bisa dibanggakan.

Mereka tidak hanya datang untuk foto, tapi juga untuk merasakan — dan itu membuat mereka kembali.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Desa Kersik mengajarkan kita bahwa pembangunan wisata tidak selalu harus mahal dan besar. Yang lebih penting adalah cerita yang kita bangun dan bagaimana warga diajak untuk ikut menuliskannya.

Karena pada akhirnya, orang tidak hanya datang untuk melihat. Mereka datang untuk merasakan, dan pulang dengan cerita.

Desa Kersik bukan lagi sekadar titik di peta. Ia sudah menjadi cerita yang dicari orang — karena warganya berani merangkai cerita itu bersama-sama.

Kalau desa Anda ingin menjadi seperti Kersik, ingatlah: bukan hanya soal membangun dermaga atau pantai, tapi juga tentang membangun rasa memiliki, membangun suasana, dan membangun cerita.

Karena desa yang punya cerita selalu lebih mudah dicari, dan selalu lebih sulit dilupakan.

Facebook
Twitter
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru