Desa Wisata Kersik, 26 Juli 2025 – Suara semilir angin laut mengiringi pagi yang hangat di Desa Wisata Kersik. Di bawah rindangnya pepohonan yang berjajar di pinggir jalan, sekelompok mahasiswa mengenakan kaus dan topi tampak sibuk. Beberapa di antara mereka duduk bersila, menggenggam kuas, sementara yang lain berdiri memperhatikan dengan saksama. Di hadapan mereka, terbentang sebuah papan kayu besar yang mulai berwarna – plang Sapta Pesona yang selama ini menjadi simbol penting bagi desa wisata ini.
“Sedikit lagi selesai,” ujar seorang mahasiswi sambil meniup sisa cat di ujung kuas. Peluh membasahi dahinya, namun senyum tak lepas dari bibirnya.
Saya memperhatikan mereka dari kejauhan, merasakan energi yang berbeda. Bukan sekadar mengecat papan, mereka sedang menanamkan pesan – tentang kebersamaan, harapan, dan masa depan sebuah desa wisata yang sedang berjuang menemukan pesonanya.
Warna yang Menghidupkan Pesan
Sapta Pesona adalah tujuh nilai utama yang menjadi jiwa pariwisata Indonesia: Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan. Plang yang sedang mereka perbaiki ini sudah lama memudar warnanya, hampir tak terbaca. Kini, dengan cat biru yang kontras di atas papan putih, kata-kata itu kembali bersinar terang.
“Aku pengen wisatawan yang lewat langsung bisa baca dan inget pesan ini,” kata salah satu mahasiswa sambil merapikan tulisan ‘Ramah’. Tangannya sedikit bergetar, takut tulisannya tak rapi, namun teman-temannya tak henti memberi semangat.
Saya bisa merasakan bagaimana setiap sapuan kuas bukan hanya pekerjaan teknis, melainkan sebuah pengharapan agar Desa Wisata Kersik terus tumbuh menjadi destinasi yang nyaman untuk dikunjungi.
Tidak hanya mahasiswa yang terlibat. Seorang warga desa terlihat menemani sambil bercerita. Seorang bapak paruh baya yang duduk di bangku kayu berkata pelan, “Kami senang anak-anak ini mau peduli sama desa kami. Kalau nggak ada mereka, mungkin plang ini nggak akan terurus.”
Momen ini terasa begitu akrab. Tidak ada jarak antara mahasiswa dan warga. Mereka bercanda, saling bertukar cerita, dan berbagi makanan ringan di sela-sela pekerjaan. Saya melihat mereka seperti keluarga besar yang tengah menjaga rumahnya sendiri.
Di sinilah saya menyadari, KKN bukan hanya soal program kerja, melainkan soal membangun jembatan. Sebuah jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan masyarakat, ilmu dengan kehidupan nyata, dan kota dengan desa.
Jejak yang Akan Dikenang
Siang mulai merayap ketika mereka menancapkan plang Sapta Pesona yang telah selesai dicat ulang. Papan kayu itu kini berdiri tegak di tepi jalan utama desa, menghadap ke arah wisatawan yang datang.
Mahasiswa dan warga desa berdiri memandanginya dengan rasa bangga. Seorang mahasiswi yang sejak pagi bekerja tanpa henti berkata lirih, “Capeknya langsung hilang lihat ini. Semoga bermanfaat.”
Saya melihat plang itu seakan memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar papan kayu. Ia adalah simbol harapan – harapan agar Desa Wisata Kersik tetap menjadi tempat yang aman, bersih, dan ramah. Harapan agar setiap wisatawan yang datang membawa pulang kenangan indah.
Di akhir kegiatan, mereka berfoto bersama. Senyum-senyum lebar menghiasi wajah yang lelah namun puas. Saya tahu, meskipun waktu KKN mereka akan segera berakhir, jejak yang mereka tinggalkan akan terus hidup – bukan hanya dalam bentuk papan kayu itu, tetapi juga dalam ingatan masyarakat yang merasakan kepedulian mereka.
Melihat semua ini, saya menyadari bahwa KKN adalah ruang untuk belajar mencintai dan dicintai oleh masyarakat. Mahasiswa belajar bahwa ilmu yang mereka miliki akan menjadi bermakna jika dibagikan. Mereka belajar bahwa sekecil apapun aksi yang dilakukan dengan hati, bisa meninggalkan dampak yang besar.
Desa Wisata Kersik kini memiliki plang Sapta Pesona yang baru, tetapi yang lebih penting, mereka memiliki kenangan manis bersama anak-anak muda yang peduli. Seperti kata salah satu warga, “Biar papan ini nanti usang lagi, yang penting kebersamaan ini nggak akan hilang.”
Dan saya percaya, kenangan itulah yang akan terus hidup, bahkan ketika cat pada papan itu perlahan memudar.
One Response
Mantap