Prolog – Prasasti Hijau

Prolog - Prasasti Hijau
Prolog - Prasasti Hijau

Di kedalaman arsip digital, di ruang yang bahkan debu cahaya seakan enggan singgah, Dima menemukan sesuatu yang tidak ia cari. Bukan file riset, bukan catatan algoritma, melainkan sesuatu yang jauh lebih samar: teks tua yang muncul dalam bentuk fragmen holografik, huruf-hurufnya bergetar hijau pucat, seperti lumut bercahaya yang tumbuh di bebatuan gelap.

Tulisan itu tidak menggunakan bahasa sains, tidak pula memaparkan rumus atau angka. Ia berbicara dengan nada yang asing bagi zaman Dima, tapi terasa akrab di ruang bawah sadar manusia: nada dunia yang sudah lama terkubur, namun masih berdenyut seperti arus tersembunyi di balik sejarah.

“Langit menurunkan bayangannya ke tanah,
dan tanah menyimpan rahasia langit dalam diam.
Dari satu denyut lahirlah segala sesuatu,
sebagaimana inti bintang menyimpan siang,
dan rahim malam berdiam dalam pelukan bulan.”

Dima menatap huruf-huruf itu lama, membiarkan kata-kata melayang masuk ke pikirannya. Ia terbiasa dengan kode genetik yang jelas, laporan medis yang tegas, persamaan algoritma yang dapat diuji. Tapi yang satu ini tidak bisa ia ukur. Kata-kata itu berlapis, seakan mengandung lapisan lain di baliknya. Apakah ia membaca syair kuno? Mantra? Atau kode tersembunyi yang sengaja disamarkan dalam bentuk simbol?

Ia bukan seorang peramal, bukan pula mistikus. Ia lahir dari zaman mesin, terbentuk oleh logika algoritma, dan mengabdi pada eksperimen. Namun ada sesuatu dalam teks itu yang menembus semua lapisan rasionalitasnya. Kata-kata itu tidak berbicara pada pikirannya, melainkan pada ruang sunyi di dalam dirinya—ruang yang selama ini tidak pernah ia sentuh.

Huruf-huruf hijau itu bergetar pelan. Dalam getarannya, Dima merasa seolah-olah ada pintu samar yang terbuka. Pintu itu tidak mengarah ke masa lalu, melainkan ke sesuatu yang belum terjadi, ke kemungkinan yang bahkan belum memiliki bentuk.

Dan ia tahu, sejak malam itu, hidupnya tidak lagi sekadar tentang algoritma dan logam. Ada sesuatu yang lain sedang menunggu, sesuatu yang samar, namun mendesak.

Facebook
Twitter
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru